CSR

Card image cap
PGE Bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Inisiasi Revitalisasi Danau Pangkalan
PGE Rabu 08 Agustus 2018

Sebutan Danau Pangkalan sebenarnya tidak asing bagi masyarakat di sekitar kabupaten Bandung dan Garut. Namun beberapa tahun belakangan danau ini mulai terlupakan karena memang wujud fisiknya sudah tidak dapat ditemui lagi. Lokasi Danau Pangkalan berada di Dusun Kamojang yang terletak di Kabupaten Bandung berbatasan dengan kabupaten Garut, dimana secara dokumentasi, pada  peta topografi tahun 1954 Danau Pangkalan masih muncul.

Dusun Kamojang pada awalnya dikenal dengan sebutan Pangkalan Pateunteung. Nama Kamojang diambil dari nama kawah yang ada di wilayah Pangkalan Pateunteung, dimana pada tahun 1920-an kegiatan eksplorasi panas bumi di wilayah tersebut pertama kali dilakukan oleh Pemerintah Belanda. Inilah kemudian yang membuat nama Kamojang kemudian semakin dikenal masyarakat secara luas.

Paska masa kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Kamojang juga tidak luput dari wilayah yang terkena dampak dari peristiwa gerakan DI/TII, sehingga pada masa itu banyak dari penduduk Kamojang yang keluar dari wilayah Kamojang karena melihat bahwa Kamojang bukanlah tempat yang aman untuk ditempati. Dan mulai  tahun 1962 setelah, wilayah Kamojang aman sudah berangsur aman dan kondusif untuk ditempati,  penduduk Kamojang satu persatu mulai kembali ke tempat asalnya di Kamojang, termasuk menghuni dan memanfaatkan lahan di sekitar Danau Pangkalan. Pada awalnya, Danau Pangkalan banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk memelihara kerbau dan budidaya ikan, belum ada penduduk yang berminat untuk berkebun di wilayah sekitar Danau Pangkalan. “(Danau Pangkalan) dibikin kolam untuk ditanami ikan. Jadi ditanami ikan, kemudian satu tahun sekali itu baru dipanen. Hampir semuanya menanam ikan, karena belum ada kebun”, begitu salah satu penuturan penduduk yang berdiam di sekitar Danau Pangkalan.

Pada awal tahun 1980-an, kegiatan berkebun mulai berkembang di wilayah Danau Pangkalan. Pada masa itu, untuk memenuhi kebutuhan lahan bagi warga sekitar untuk bercocok tanam, Danau Pangkalan mulai dikeringkan oleh penduduk sekitar dengan cara membobol tanggul.  Salah satu warga yang berdiam di sekitar Danau Pangkalan, Odo Suhada, menjelaskan bahwa hilangnya Danau Pangkalan sebagian besar bukan dikarenakan peristiwa alami melainkan aktifitas yang disengaja karena belum adanya lahan untuk bertani pada saat itu. “Karena banyak pembentukan kebun, jadi si airnya itu dialirkan sampai kering. Tanggul-tanggulnya dibobol kemudian kering, sehingga (Danau Pangkalan) bisa dipakai untuk menanam tanaman” jelasnya.

Hal ini dilakukan oleh masyarakat karena adanya kebutuhan akan lahan untuk bercocok tanam. Salah satu warga yang berdiam di sekitar Danau Pangkalan, Odo Suhada, menjelaskan bahwa hilangnya Danau Pangkalan sebagian besar bukan dikarenakan peristiwa alami melainkan aktifitas yang disengaja karena belum adanya lahan untuk bertani pada saat itu. “Karena banyak pembentukan kebun, jadi si airnya itu dialirkan sampai kering. Tanggul-tanggulnya dibobol kemudian kering, sehingga bisa dipakai untuk menanam tanaman” jelasnya.

Berdasarkan keterangan Odo Suhada, sebagian Danau Pangkalan masih ada hingga awal tahun 2000-an. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi. Sebagian besar lahan bekas Danau Pangkalan telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian masyarakat. Bahkan ada yang disewakan untuk aktifitas pertanian kentang milik salah satu perusahaan swasta nasional.

Upaya revitalisasi danau pangkalan diinisiasi pada beberapa tahun terakhir. Salah satunya dengan inisiasi pemetaan sumber air yang dilakukan PT Pertamina Geothermal Energy bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung. Kerjasama dengan masyarakat sekitar juga dilakukan sebagai upaya revitalisasi danau melalui penggalian lahan di sekitar lokasi bekas Danau Pangkalan. Hasilnya mulai muncul danau-danau kecil yang menjadi obyek wisata bagi wisatawan lokal. PT Pertamina Geothermal Energy sebagai pengembang energi panas bumi yang bersih dan ramah lingkungan, sangat memberikan perhatian pada revitalisasi Danau Pangkalan tersebut sebagai salah satu bagian dari program pengembangan desa wisata geothermal yang telah dikembangkan di sekitar Area Kamojang tempat dimana salah satu pengusahaan panas bumi dilakukan oleh PT Pertamina Geothermal Energy. Pengembangan desa wisata geothermal di Area Kamojang tersebut (termasuk inisiasi revitalisasi Danau Pangkalan) telah mendapatkan apresiasi dari Pemerintah dan para pemangku kepentingan di sekitar Area Kamojang. Pencapaian perolehan 7 kali PROPER emas berturut-turut bagi PT. Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjadi salah satu bukti nyata usaha PT Pertamina Geothermal Energy dalam pengelolaan lingkungan di sekitar Area Kamojang, dan inisiasi revitalisasi Danau Pangkalan merupakan salah satunya.

Aktivitas CSR Terkait