Berita

Card image cap
Keberhasilan Program Emission Reduction Melalui Clean Development Mechanism (CDM) Di PT Pertamina Geothermal Energy
Pertamina Senin 23 Juli 2018

PT Pertamina Geothermal Energy (“PGE”) merupakan perusahaan yang mengembangkan pembangkitan clean energy & ramah lingkungan yang mengelola 14 Wilayah Kerja dengan total kapasitas terpasang sampai dengan saat ini sebesar 617 MW. Dengan kapasitas terpasang sebesar 617 MW tersebut, terdapat potensi pengurangan emisi  karbon sebesar 2,58 juta ton CO2e/tahun dan sudah masuk dalam  mekanisme Clean Development Mechanism (CDM).. CDM merupakan suatu proyek dengan fungsi menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat bermanfaat secara ekonomi dan dapat mengurangi pemanasan global untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dimana pada Konferensi Iklim PBB tahun 2015 (COP-21) di Paris bahwa Pemerintah Indonesia mengirimkan dokumen bernama Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang menyatakan rencana penurunan karbon emisi sebesar 29% sampai dengan tahun 2030, bahkan memungkinkan sampai sebesar 41% jika mendapatkan dukungan internasional.

Hingga saat ini, PT PGE  mengelola 7 Proyek CDM, dimana diantaranya 6 proyek CDM PT PGE telah terdaftar di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yakni Proyek CDM PLTP Kamojang Unit 4, Ulubelu Unit 3&4, Lumut Balai Unit 1&2, Lumut Balai Unit 3&4, Kamojang Unit 5 serta Karaha Unit 1. Sedangkan untuk Proyek Lahendong Unit 5&6 sedang dalam proses registrasi pada mekanisme voluntary carbon.

Upaya PGE dalam meningkatkan manfaat terkait dengan pengurangan emisi karbon tidak berhenti pada terdaftarnya proyek CDM di UNFCCC, dimana dalam pelaksanaannya PGE berupaya agar kredit karbon (sebagai akumulasi dari pengurangan emisi) dapat memiliki kualitas lebih baik, kompleksitas yang tinggi dan memberikan manfaat bagi pembangunan berkelanjutan. Hal ini diperoleh dengan mengupayakan kredit karbon mencapai Gold Standard /GS (atau sekarang disebut sebagai Gold Standard for the Global Goals (GS4GG)) berdasarkan benchmark dari Gold Standard Foundation. GS merupakan standard kredit karbon yang diakui oleh lebih dari 80 Non-Gonvermental Organization (NGO) di seluruh dunia. Skema GS yang diikuti tidak mudah yang meliputi persiapan, validasi, registrasi, pemantauan rencana pelaporan dan verifikasi dan setelah melewati berbagai proses PGE berhasil mendaftarkan 5 Proyek CDM nya sebagai CDM Gold Standard dimana merupakan proyek CDM Gold Standard pertama di Indonesia.

Sebagai inovasi optimalisasi lainnya terkait dengan pengelolaan  pengurangan emisi karbon PGE juga telah mendaftarkan proyek CDM nya menggunakan mekanisme yang bersifat voluntary yakni Verified Carbon Standard atau VCS.  Mekanisme VCS merupakan alternatif pengembangan kontribusi pengurangan emisi karbon khususnya pada pasar voluntary dengan tetap mensyaratkan adanya kontribusi terhadap aspek lingkungan dan sosial selain aspek potensi penurunan emisi. Adapun kontribusi pengurangan emisi karbon pada mekanisme VCS secara umum berasal dari sektor renewable energy, kehutanan dll

Dengan potensi karbon kredit yang telah dicapai tersebut, dan mempertimbangkan tingkat kepedulian negara-negara di dunia yang semakin meningkat terhadap pemanfaatan energi bersih dan pengurangan emisi karbon, PGE berharap pasar CDM bisa lebih baik dan lebih stabil pada tahun-tahun mendatang, sehingga potensi karbon kredit PGE dapat dikomersialisasi dengan lebih baik. Sebagai gambaran umum, pada periode monitoring 16 Desember 2010 s.d 28 Februari 2011 untuk CDM Kamojang 4, potensi pengurangan emisi karbon yang telah diterbitkan dalam bentuk Certified Emission Reduction (CER) dan telah berhasil dikomersialisasikan sebesar  92.691 ton CO2e, dimana pada waktu itu harga CER per ton CO2e adalah sekitar 4 – 14 Euro. Hal ini menjadi prestasi tersendiri bagi PT PGE karena merupakan Anak Perusahaan PT Pertamina (Persero) yang pertama kali berhasil mendaftarkan proyek CDM dan berhasil menerbitkan sertifikat Emission Reduction.

Dalam perkembangan beberapa tahun belakangan ini, tepatnya pasca berakhirnya Protokol Kyoto pada tahun 2012, beberapa kebijakan terkait perubahan iklim dari negara-negara telah mempengaruhi Pasar Kyoto dan memberikan dampak perubahan harga karbon kredit. Namun bagi PGE kondisi tersebut dipandang sebagai sebuah tantangan untuk tetap berupaya memberikan kontribusi terbaik khususnya dalam aspek penurunan emisi karbon, dengan tetap aktif dan berkomitmen menjalankan seluruh Proyek CDM yang tersebar di berbagai wilayah kerja PGE.

Semoga semangat ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua khususnya dalam rangka pencapaian penurunan tingkat gas rumah kaca di dunia.

Berita Terkait